Aku melihat mereka menyetop kendaraan untuk ikut menumpang pulang dari sekolah di daearah sekitar batang GS, duri, riau. Dan kenyataannya aku melewatinya begitu saja, memacu innovaku ke kota untuk persiapan ketemu project Owner, REM Chevron. Perjalanan dari Bangko ke Duri selama 2 1/2 jam itu cukup menyita waktu, dan cacing di perut sudah menagih minta jatah makan siang.
Begitulah pemerintah, pemekaran kota dilakukan dengan membuat pusat keramaian, berupa pasar dan sekolah di tempat yang jauh dari jangkauan. SD itu dibangun di tepi hutan kelapa sawit, cukup jauh dari perumahan penduduk, cukup jauh dari jalan raya yang belum terpasang lampu jalan dan jarang berseliweran mobil angkutan. Kendaraan untuk anak SD itu ?? Tidak ada jemputan, tak ada sopir. Tidak ada sepeda atau motor. Jalan kaki … IYA. Kalaupun bubar sekolah dan merasa capek, mereka bakal menumpang ke mobil yang mereka stop. Dan aku melihatnya menyetop mobil truk tronton beroda 22 yang melaju ke arah medan.
Arrgh … ternyata setan memenangkan pertarungan itu. Aku tidak memutar balik mobil dan menjemput mereka. Permisif pun muncul, yang harusnya datang bukan di saat seperti itu. Padahal ingin rasanya mendengar kisahnya bersekolah.
Pastaslah, laskar pelangi begitu meledak. Semangat dan optimisme Lintang mampu mengantar Ical menuju orang terdidik. Cerita perjuangan menempuh pendidikan memberikan nuansa inspiratif dan empati. Wajarlah, Denias sempat populer membuat kita sadar bahwa ada sosok-sosok di tanah papua yang berjuang keras hanya untuk sekolah.
-Apa kabar 2 adik asuhku di bandung sana ? Belajar yang rajin yak-



