Arsip untuk Maret, 2009

Kemalingan !

29 Maret 2009

“Mas, jendelanya ditutup dong ! Kan ada laptop. Takut ada maling. Bisa aja kan masuk lewat sini”.

Apakah itu firasat ? Ah, aku tak tau. Tapi ternyata terjadi juga. Tapi bukan menimpa diriku. Ada kawan yang mendapat musibah.  Laptopnya ilang. Pancaran wajahnya pun terlihat mendung. Yang jelas bukan saja karena barangnya ilang, tapi kerjaan yang dilakukan berbulan-bulan lenyap sudah. Kasian. 

Ah, hanya berharap indonesia segera makmur, dan sejahtera. Hingga tak ada lagi terdengar cerita seram kemalingan dan berita kerampokan. Hingga rakyatnya menjadi bahagia dunia dan akhirat.

-Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Tetep tabah ya sobat !-

Gak napsu euy …

25 Maret 2009

Beta jalang-jalang untuk beli printer Canong ,,, semoga tara hujang. Hehehe ..

Ternate

Kali ini kita berkunjung ke Ternate. Menurut wiki, berada di lokasi Asia Tenggara, koordinat 0°47′N 127°22′E, Kepulauan Maluku, dengan area seluas 76 km², di kaki gunung Gamalama (1715m). Sedangkan PLN ini berada di daerah bernama Kayu Merah, dan saya tinggal di desa sebelah  yang diberi nama Kalumata.

Antara Kayu Merah dan Kalumata, kami biasa jalan kaki agar sehat dan menghemat duit. Hehehe …  Karena berjalan kaki, kita bisa melihat romantika dunia. Kenapa bikin gak napsu ?!!

- Ada tiga pusat makanan yang pas di lidah. Mie ayam, warung bu nunung dan nasi kuning ibu sunda.
Masalahnya, tempat yang lumayan uenak ada di nasi kuning ibu sunda. Tapi ya itu, mereka ko ngerokok. Illfeel sudah. Senikmat apapun hidangan ala Ternate, bisa bikin pening dan pengin muntah.

- Ada tiga pusat salon di arena sepanjang itu. Dan  di situlah bertengger bencong dan waria yang nggilani.
Mending kalau cantik dan menarik, yang ada malah bikin aku lempar gelas ke mukanya yang njijiki dadanya yang tipis.

Penderitaan semakin menjadi ketika bencong dan waria itu berkumpul di tempat makan. Alamaakk … lengkap sudah derita ini.

“Mas, pinjem korek api dong”, begitu dia meminta kepadaku ketika sedang makan di warung bu nunung. Karena di dekatku ada korek gas, aku memberinya. Ternyata korek itu ‘mejen‘. Otakku yang saat itu lagi lowong langsung nyeletuk,”Eh ada tuh di belakang (sambil nunjuk ke dalam rumah). Pake aja kompor”. Untungnya mereka tetap kalem cuma teriak: “JAHAT !!”.

Kebayang … dulu pernah, ketika aku maen ke Bogor, tempat sodara, dan ternyata aku kesasar salah turun di malam yang gelap. Aku memutuskan menunggu pagi di masjid, tidur di situ, ada beberapa orang yang juga istirahat di situ. Ada seseorang yang menyapaku dan mengajak ngobrol. Dan di ujung cerita, dia mengajak, “Mas, mau aku emut”. Pusing lah aku. Cowok berbibir manis itu sudah mengelus-elus tangan dan perutku sebelum mengatakan itu.

Daemon Network Setting

25 Maret 2009

Pre : Unix, Ubuntu and family.
Daemon adalah program yang dijalankan di background. Script yang menggunakan konsep Daemon biasanya memiliki nama file yang diakhiri dengan karakter ‘d’, misal jagad, somad.. upsss httpd, ftpd. Daemon ini dikenal dengan sebutan service jika kita menggunakan windows.

Daemon tidak bekerja sendiri, tetapi bersama runlevel sebagai rekannya. Runlevel adalah mode operasi inisialisasi sistem operasi pada Unix System V-style. Defaultnya ubuntu berjalan pada runlevel 2 (Multi-User Mode). Ketika sistem operasi mulai, program-program daemon akan dipanggil sesuai dengan nilai runlevelnya. Script atau program daemon biasanya disimpan di /etc/init.d. Setiap runlevel menyimpan konfigurasi file-file yang akan dijalankan ketika startup dalam bentuk file link.

Menjalankan program service sesaat :
- sudo /etc/init.d/namaService [start|stop|restart]

Menjalankan daemon
Menjalankan daemon berarti menyisipkan file link ke runlevel.
- update-rc.d namaService defaults
> update-rc.d : install dan remove System-V style init script links
> argumen defaults akan membuat file link pada runlevel 2-5.

Membuang file link daemon
- update-rc.d namaService remove

Mari membuat “roh setan”
Kasus :
Kita membangun jaringan komputer di suatu perusahaan. Jika ternyata komputer PC yang kita pasang itu terdampar di ruangan yang jauh dari peradaban kabel, maka wireless bisa jadi solusi yang “ringan”. Tinggal colok ! Gak perlu tarik kabel sepanjang kereta api. Tut tut tut !
Masalahnya jika terinstall linux, kadang setting network itu bandel tetep mencari koneksi eth0 berupa kabel ethernet. Apalagi usernya masih awam tentang command line di unix. Lengkaplah sudah !!
Maka mending kita buat script yang memanfaatkan si setan ini.

1. Buat script, misal jaringMerah, dengan mode file executable
> chmod +x jaringMerah
> isi dengan :
- ifdown eth0;          # matikan port kabel ethernet
- ifdown wlan0;
- ifconfig wlan0 10.23.129.223 up;
2. simpan di /etc/init.d/
3. lakukan perintah : update-rc.d jaringMerah defaults

RTD, Si Sensor Suhu

24 Maret 2009

Sensor Suhu RTD

Sensor Suhu RTDSensor temperatur yang kita pakai adalah RTD dengan jenis PT 100 kelas B.
RTD = Resistance Temperature Detector, pendeteksi suhu berdasarkan nilai tahanan pada metal.
Nilai tahanan akan sebanding dengan besar temperatur yang diukur. Semakin suhunya tinggi, nilai resistansinya akan meningkat.
Rumus yang dipakai :
R = apha * (T – To) + Ro
alpha : koefisien metal (pada temperatur resistansi) [/*C]
To : Suhu baseline
Ro : Nilai hambatan pada suhu baseline.

Metal yang digunakan bisa berbagai macam material.
Material Jenis Koefisien
Nickel Element 0.005866
Iron Element 0.005671
Molybdenum Element 0.004579
Tungsten Element 0.004403
Aluminum Element 0.004308
Copper Element 0.004041
Silver Element 0.003819
Platinum Element 0.003729
Gold Element 0.003715
Zinc Element 0.003847
Steel* Alloy 0.003
Nichrome Alloy 0.00017
Nichrome V Alloy 0.00013
Manganin Alloy +/- 0.000015

Kebanyakan RTD terbuat dari platium dengan baseline resistansi 100 Ohm pada 0 ºC.
Pada setting ini, RTD mempunyai perubahan resistansi sebesar 0.3729 Ω/ºC.

Tabel Temperatur vs Resistansi dapat disedot pada
From: http://www.thermocouple.co.uk/TD_TV_PT1A.pdf
Size: 62 KB (63151 bytes)

Jadi RTD, PT100 yang kita pakai berarti : R = 0.3729 T + 100
Misal jika suhu 30 *C, akan terukur di Ohm meter R sebesar
R = 0.3729 * 30 + 100
R = 111.187 Ohm

Kelas B menunjukkan tingkat toleransi atas akurasi pembacaan nilai. Standart Industri RTD menurut IEC-751, biasanya menggunakan kelas B ini, yang memiliki toleransi 0.12 % (resistansi) atau sekitar 0.3 *C pada pengukuran suhu 0*C, 0.45 *C pada suhu 30 *C, dan sekitar 0.8 *C pada 100*C.
Class B: Dt °C = ± ( 0.30 + 0.005 • | t | )

Jika ingin yang lebih presisi, Anda bisa menggunakan RTD dengan kelas A, kelas BAND 3 (1/3 DIN) dan BAND 5 (1/10 DIN). Kelas A memiliki toleransi 0.15 *C pada 0*C, kelas BAND 3 (1/3 DIN) memiliki toleransi 0.08 *C pada 0 *C dan BAND 5 (1/10 DIN) memiliki toleransi 0.03 *C pada 0 *C.
Class A: Dt °C = ± ( 0.15 + 0.002 • | t | )

Sumber :
http://www.controleng.com/blog/820000282/post/1770032777.html
http://www.thermocouple.co.uk/TD_TV_PT1A.pdf
http://www.temperature.com.au/Support/RTDaccuracyClassAClassB13DIN110DIN.aspx
http://www.mueller-ie.com/bild/wt-mr1g.jpg